Kamis, 28 September 2017

Mari mengenal bulan-bulan dalam Kalender Hijriyah

Salah satu fenomena menyedihkan dikalangan umat islam saat ini adalah kita masih asing dengan kelender hijriyah. Mungkin masih banyak yang bingung karena ada beberapa perbedaan mendasar antara bulan islam dengan bulan masehi.
Sebelum kami paparkan daftar bulan bulan islam, ada baiknya untuk kita mengetahui sejarah ditetapkannya Kalender Hijriyah sebagai penanggalan dalam islam. Dan sebagai penutup diakhir akan kami jelaskan beberapa perbedaan kalender masehi dan hijriyah.

Sejarah Kalender Hijriyah


Ditetapkannya kalender hijriyah sebagai bulan islam ditetapkan ketika kekhalifahan dipimpin oleh sahabat Umar Bin Khatab radhiyallahu anhu. Dimulainya Kalender hijriyah saat peristiwa hijrahnya Rasulullah dari kota mekah ke kota madinah.
Sama seperti kalender masehi, bulan islam juga terdiri dari 12 bulan. Jumlah harinya pun berkisar 29-30 hari. Hal ini didasarkan dan disesuaikan dengan firman Allah Subhana Wata’ala yang berbunyi:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Qs. At Taubah: 36)
Sebenarnya, orang-orang arab sebelum Rasulullah dilahirkan sudah menggunakan kalender hijriyah namun tidak menggunakan tahun. Orang Arab dulu hanya menyematkannya pada kejadian besar yang terjadi saat itu seperti tahun gajah tepat ketika Rasulullah dilahirkan.
Awalnya penepatan tahun hijriyah bermula ketika sahabat Abu Musa Al-Asyari mengirimkan surat kepada Khalifah umar. Surat tersebut berisi tentang pertanyaan mengenai surat-surat yang dikirimkan khalifah Umar hanya ada tanggal dan bulannya saja, tidak dituliskan tahun-nya. Hal tersebut sangat membingungkan.
Seiring berjalannya waktu Khalifah Umar pun mengumpulkan beberapa sahabat senior. Mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhan bin Ubaidillah.
Para sahabat bermusyawarah dan metetapkan kalender islam. Beberapa sahabat mengusulkan untuk memulai tahun islam berdasarkan milad Nabi Muhammad, sebagian lainnya mengusulkan untuk mulai-nya ketika Nabi diangkat menjadi Rasul.
Dari banyaknya usulan yang ada, usulan yang diterima oleh Khalifah umar adalah usulan milik Ali bin Abi Talib. Beliau mengusulkan untuk memulai kalender hijriyah ketika Rasulullah berhijrah dari Mekkah menuju Madinah.

Nama Bulan Dalam Islam


Supaya kita lebih mengenal kalender hijriyah dan bisa mengenal bulan bulan islam kepada anak-anak kita mari kita ulas nama bulan dalam islam. Berikut ini daftar bulan dalam islam beserta keutamaan didalam-nya.

Bulan Muharram ( ُالمُحَرَّم )

Pada bulan ini, terdapat sunnah rasulullah yang keutamaan yang sangat besar. Amalan tersebut adalah puasa  tasu’a dan a’syura. Ganjaran yang diberikan kepada orang yang melakukan amalan ini adalah dosanya selama satu tahun yang telah lewat akan dihapuskan.
Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu yang mengatakan :
سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Puasa tasu’a dilakukan pada 9 muharam sedang puasa asyura dilakukan pada tanggal 10 muharam-nya. Puasa dibulan Muharam merupakan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan.
Bulan Muharam memiliki arti sebuah pantangan atau diharamkan. Dalam bulan tersebut umat islam dilarang untuk menumpahkan darah ataupun berperang. Pantangan tersebut sudah diberlakukan dari masa awal islam.

Bulan Safar  ( ُصَفَر )

Pada zaman dahulu, bangsa arab pada bulan safar memiliki kebiasaan meninggalkan rumah untuk beberapa kepentingan seperti berniaga, merantau, dan berperang. Sampai-sampai kampung yang ditinggalinya kosong dan tak berpenghuni. Karena jika kita tinjau berdasarkan makna-nya, kata safar memiliki makna “KOSONG”.

Bulan Rabiul Awal ( ِرَيِبْعُ الأَوَّل )

Nama bulan dalam islam yang selanjutnya adalah bulan Rabi’ul Awal. Dalam bulan ini ada banyak sekali catatan sejarah Rasulullah seperti tanggal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dilahirkan, diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rasul dan juga ketika hijrah.
Karenanya Pada bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak bacaan sholawat, memperbarui keimanan kita kepada rasulullah dan senantiasa meneladani akhlaq beserta sunnah yang beliau contohkan. Dalam sebuah hadits dijelaskan tentang keutamaan membaca sholawat.
“Bagi siapa yang membaca sholawat kepadaku walau cuma satu kali maka allah SWT akan membalas kebaikan kepadamu sepuluh kali dan sepuluh derajat ”
( HR. Muslim : 408 dan pernah dinyatakan oleh Imam bukhori dalam adabul Mufrad , Ibnu abu syaibah, Ismaili dan sanad ma’lul)”

Bulan Rabiul Akhir ( ِرَبِيْعُ الآخِر )

Dalam bulan ini juga banyak juga banyak catatan sejarah yang dialami Rasulullah dan para sahabatnya. Salah satu kejadian besar yang pernah terjadi dibulan tersebut adalah tentang pengkhianatan bani nadzir terhadap perjanjian yang telah disepakati dengan Rasulullah.
Karena pengkhianatan Bani Nadzir Rasulullah megusir mereka keluar dari madinah. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 3 hijriyah. Tepat ketika itu Allah menurunkan surat Al-Hasyr tentang pengkhianatan bani nadzir yang akhirnya memicu peperangan besar.

Bulan Jumadil Ula  ( جُمَادَى الأُوْلَى )

Sebelum islam berjaya di peradapan arab, bulan jumadil Ula disebut dengan jumadi khomsah. Dahulu pada bulan ini jatuh ketika musim dingin, dimana air-air ditanah arab membeku. Adapun jumlah hari yang terdapat pada bulan kelima pada kalender hijriyah seringnya sebanyak 30 hari.
Berbeda dari bulan bulan islam yang lainnya, pada bulan ini memang tidak ada yang istimewa. Namun dalam islam ada banyak amalan yang bisa kita kerjakan baik yang wajib ataupun yang sunnah. Karena-nya sebagai seorang muslim, mari kita senantiasa berlomba lomba dalam melakukan amalan ibadah. 

Bulan Jumadil Akhir ( ِجُمَادَى الآخِرَة )

Pada bulan ini ada beberapa peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah islam. Sahabat Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu anhu selaku khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah, beliau wafat pada malam tanggal 22 bulan jumadil akhir pada tahun 13 hijriyah ketika umurnya 63 tahun.
Tepat ketika itu juga sedang terjadi Perang Yarmuk. Perang tersebut dipimpin oleh sahabat Khalid bin Walid radhiyallahu anhu yang melibatkan pasukan sebanyak 45,000 orang. Saat itu, kaum muslim menghadapi tentara Rum yang pasukannya berjumlah 240,000 orang.
Tentara kaum muslim yang saat itu dipimpin sahabat Khalid bin Walid mendapat kemenangan besar. Dalam peperangan tersebut ada sebanyak 3000 kaum muslim yang syahid, sedang pasukan musuh hampir setengahnya yang terbunuh.

Bulan Rajab ( ُرَجَب )

Daftar nama bulan bulan islam yang selanjutnya adalah bulan Rajab. Bulan ini merupakan salah satu dari 4 bulan yang diharamkan oleh Allah untuk berperang dan menumpahkan darah. Perintah tersebut tertera pada Al-Qur’an surat At-taubah ayat 36 yang kemudian dijelaskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya :
“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”
(HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)
Peristiwa penting yang ada dibulan ini adalah peristiwa Isro’ Mi’raj. Sebagian ulama berpendapat bahwa peristiwa ini jatuh pada tanggal 27 rajab. Isra’ adalah perjalanan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari Mekkah ke Baitul Maqdis (palestina). Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah dari bumi naik menuju kelangit tertinggi. 
Bulan Sya’ban ( ُشَعْبَان )
Secara umum bulan sya’ban merupakan bulan yang mulia karena bulan ini adalah waktu dinaikkan amalan. Jika dibandingkan bulan islam yang lainnya amalan puasa yang paling banyak dilakukan Rasulullah setelah bulan ramadhan adalah pada bulan Sya’ban.
Dalam sebuah hadist Usamah bin Zaid bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tak pernah menyaksikan beliau mengerjakan amalan puasa lebih semangat dari pada bulan sya’ban. Kemudian Rasulullah bersabda :
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Bulan Ramadhan ( ُرَمَضَان )

Bulan Ramadhan merupakan bulan islam paling utama dan memiliki banyak sekali keistimewaan yang tak boleh kita lewatkan. Pada bulan ini seluruh umat islam diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah puasa 1 bulan penuh. Ada banyak sekali keutamaan yang bisa kita dapatkan pada bulan ini.
Pada bulan ini kitab Al-Qur’an diturunkan, dibelengunya para setan, dibukanya lebar lebar pintu surga dan ditutupnya pintu neraka serapat rapatnya. Jika dibandingkan dengan bulan bulan islam lainya masih banyak keutamaan yang Allah dan Rasul-nya janjikan.

Bulan Syawal ( ٌشَوَّال )

Daftar nama bulan islam yang selanjutnya adalah bulan syawal. Pada bulan ini Rasulullah menganjurkan kita untuk melaksanakan puasa syawal, yaitu puasa sebanyak 6 hari pada bulan syawal. Ganjaran yang didapatkan orang yang melakukan amalan ini disebutkan pada sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)
Sebagai seorang muslim yang cinta akan sunnah Rasulullah kita harus senantiasa berusaha dan menyempatkan diri untuk melakukan sunnah yang satu ini. Karena sangat disayangkan ketika amalan yang satu ini disia-siakan begitu saja.

Bulan Dzulkaidah  ( ِذُو القَعْدَة )

Ditinjau secara bahasa, Dzulqo’dah terdiri dari 2 kata yaitu Dzul dan Qo’dah. Dzul memiliki makna “sesuatu yang dimiliki”, dan Qo’dah memiliki makna “Temapat yang di duduki”. Pada masa jahiliyah, bulan ini juga disebut dengan waranah dan juga Al-Hawa.
Pada bulan ini Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk melakukan ibadah umrah. Sebagaimana dalam hadits yang artinya :
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah, …(HR. Al Bukhari)

Bulan Zulhijah ( ِذُو الحِجَّة )

Dan daftar terakhir dari nama bulan bulan islam adalah bulan Zulhijah. 10 hari pertama yang terdapat pada bulan ini adalah hari yang paling dicintai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pada bulan ini juga terdapat 2 ibadah yang afdol untuk dilakukan. Ibadah tersebut adalah Ibadah Haji dan pemotongan hewan Qurban (hari raya Idul Adha).
Karena tidak semua umat islam yang mampu untuk melaksanakan amalan tersebut. Rasulullah menyarankan kepada kita untuk memperbanyak dzikir. Sebagaimana yang tertulis dalam sebuah hadits yang artinya :
“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.
Demikianlah pembahasan kita mengenai daftar nama bulan bulan islam beserta sejarah dan keistimewaannya dalam kalender hijriyah. Mudah-mudahan kita bisa dimudahkan didalam mengajarkan anak anak kita tentang sunnah Rasulullah dan kebudayaan islam lainnya. 

Sumber : https://bundaaisyah.com/nama-bulan-bulan-islam/

Selasa, 06 September 2016

Pandangan Islam tentang Perayaan Ulang Tahun

Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari yang mengajak untuk melempar jauh ingatan ke belakang, ketika saat ia dilahirkan ke muka bumi, atau ketika masih dalam buaian dan saat-saat masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil.Ketika hari itu datang, manusia pun kembali mengangkat jemarinya, untuk menghitung kembali tahun-tahun yang telah dilaluinya di dunia. Ya, hari itu disebut dengan hari ulang tahun.

Nah sekarang, pertanyaan yang hendak kita cari tahu jawabannya adalah: bagaimana sikap yang Islami menghadapi hari ulang tahun? Jika hari ulang tahun dihadapi dengan melakukan perayaan, baik berupa acara pesta, atau makan besar, atau syukuran, dan semacamnya maka kita bagi dalam dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

 مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ 
 “Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]

Perlu diketahui juga, bahwa orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
 “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied, misalnya Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Dan perlu diketahui juga bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

 إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا 
“Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim]

Kemudian, Ied milik kaum muslimin telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya hanya ada 3 saja, yaitu Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat. Nah, jika kita mengadakan hari perayaan tahunan yang tidak termasuk dalam 3 macam tersebut, maka Ied milik kaum manakah yang kita rayakan tersebut? Yang pasti bukan milik kaum muslimin. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,
 من تشبه بقوم فهو منهم 
 “Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Namun hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan ciri hamba Allah yang sejati (Ibaadurrahman) salah satunya,
 والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما
 “Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa” [QS. Al Furqan: 72]

Rabi’ bin Anas dan Mujahid menafsirkan Az Zuur pada ayat di atas adalah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menafsirkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan adakan di masa Jahiliyah. Jika ada yang berkata “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,

 لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ 
 “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah– menjelaskan : “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id].

Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan. Wallahu’alam.

Sumber: https://muslim.or.id/3793-sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun.html

Jumat, 02 September 2016

Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah atau bulan keduabelas dari Kalender Islam adalah Bulan yang terdapat musim haji dan Idul Adha. Bulan ini termasuk dalam bulan-bulan suci. Dinamakan demikian karena Ummat Islam sedunia melaksanakan ibadah haji di bulan ini.

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”
“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.
MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN
1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.
2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :
الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي
“Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف
“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .
“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.
3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala.
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.
فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].
Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.
Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.
4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].
5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.
7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما
“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaqun ‘Alaihi].
8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره
“Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.
Dalam riwayat lain :
فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي
“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.
وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه
“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].
Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.
9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.
10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Apa itu Puasa Arafah ???

Puasa Arafah adalah puasa pada Hari Arafah, yaitu hari kesembilan dari bulan Dzulhijjah. 
Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat muslim yang tidak pergi haji, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Rasulullah S.A.W tentang puasa Arafah: “ Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata),” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah di tanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka dia menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” (HR. Muslim no.1162 dalam hadits yang panjang) ” 
Di dalam hadits yang mulia ini terdapat dalil dan hujjah yang sangat kuat tentang waktu puasa Arafah, yaitu pada hari Arafah ketika manusia wuquf di Arafah. Karena puasa Arafah ini terkait dengan waktu dan tempat. Bukan dengan waktu saja seperti umumnya puasa-puasa yang lain. 
Oleh karena puasa Arafah itu terkait dengan tempat, sedangkan Arafah hanya ada di satu tempat yaitu di Saudi Arabia di dekat kota Makkah bukan di Indonesia atau di negeri-negeri yang lainnya, maka waktu puasa Arafah adalah ketika kaum muslimin wuquf di Arafah.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Puasa_Arafah). 

Keutamaan Hari Arafah 
Di antara keutamaan hari Arafah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arafah (yaitu untuk orang yang berada di Arafah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” [HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah] 
Keutamaan yang lainnya, hari arafah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” [ HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. [Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 8/482, Mawqi’ Al Islam[] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama. 
Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51) Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500). 
Setelah kita mengetahui hal ini, tinggal yang penting prakteknya. Juga jika risalah sederhana ini bisa disampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik. 
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (harta amat berharga di masa silam, pen).” (Muttafaqun ‘alaih). “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim). 
 Sumber: https://muslim.or.id/18509-keutamaan-puasa-arafah.html